Keindahan Istana Bogor sepertinya tidak pernah luput dari pandangan setiap orang yang melintasinya. Terlihat rusa-rusa cantik berlari bebas di halaman taman hijau dengan riangnya, dan sesekali ada beberapa warga yang memberi makan berupa wortel dari luar gerbang.

Keberadaan Istana Bogor menjadi saksi perjalanan pemimpin negara Indonesia dari jaman Soekarno hingga Soesilo Bambang Yudhoyono dan masih berdiri megah ditengah hiruk-pikuk Kota Bogor dengan kesibukkan masyarakatnya.

Menurut catatan sejarah, pembangunan Istana Bogor dilakukan oleh Gubernur Jenderal Belanda bernama G.W. Baron van Imhoff, yang menginginkan sebuah lokasi nyaman dan asri di Kota Bogor pada 1744. Lalu setahun kemudian memerintahkan untuk membangun tempat peristirahatan yang dulu lokasinya bernama Kampong Baroe. Buitenzorg menjadi nama bangunan tersebut yang proses pembangunannya dilanjutkan oleh Gubernur Jendral Jacob Mossel saat masa dinasnya 1750-1761.

Dalam perjalanan waktu dan sejarahnya, Istana Bogor pernah mengalami kerusakan karena serangan Perang Banten yang tidak menyukai keberadaan penjajahan Belanda pada 1750-1754. Namun merasa masih bisa mengusai Kota Bogor, dibawah pimpinan Gubernur Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811), Buitenzorg kembali dibangun dan diperluas memberikan penambahan bangunan di sisi kiri dan kanan. Serta memperluas halaman dan percantiknya dengan mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal.

Tidak hanya dua atau tiga orang gubernur Belanda yang pernah tinggal di Istana Bogor, tapi ada sekitar 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur Jenderal Inggris menjadikan kediamannya. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826), dilakukan perubahan besar Istana Bogor menjadi lebih megah. Tapi sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi tahun 1834 dan renovasi besar-besaran secara berkelanjutan hingga masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861).

Sampai akhirnya, tepat tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Tetapi setelah terjadinya Perang Dunia II, ketika Jepang menyerah kepada tentara Sekutu, Indonesia menyatakan Merdeka dan seluruh bangunan diserahkan kembali pada 1949.

Selepas masa kemerdekaan, Istana Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia pada Januari 1950 dan menjadi kantor sampai kediaman bagi Presiden yang menjabat sejak Soekarno. Kemegahan bangunan begitu terasa dan terlihat dari tampak luar, sedangkan bagian dalamnya mengusung arsitektur Eropa dengan pilar-pilar besar dan langit-langit tingginya.

Tidak hanya sekedar menjadi bangunan penting, seisi ruangan juga memiliki aneka produk dan bukan furnitur sembarangan. Seperti beberapa sofa yang ada didesain khusus dengan komposisi atau bentuk yang sempurna, sehingga saat diduduki akan terasa sangat nyaman.

Tentang keistimewaan isi Istana Bogor juga diungkapkan oleh Cecep Koswara, Protokol Istana Kepresidenan Bogor, semua yang ada didalamnya mengandung filosofi tersendiri. Bangunan keseluruhan dibagi menjadi tiga bagian yaitu bangunan utama untuk acara resmi kenegaraan, pada sayap kiri digunakan untuk menjamu tamu dari negara asing, dan sayap kanan sebagai tempat jamuan kepala negara yang berkunjung. Sedangkan terdapat bangunan khusus dikenal dengan nama Dyah Bayurini sebagai ruang peristirahatan presiden dan keluarganya.

Secara tata letak, bangunan Istana Bogor berada di titik nol kilometer Kota Bogor, dimana yang menandakannya adalah terdapat sebuah cermin yang disebut ‘cermin seribu bayangan’ di lorong antara ruang Garuda dan Teratai. Dua cermin besar berukuran sekitar 1,5 meter x 2,5 meter saling berhadap  ini memunculkan bayangan berbeda-beda saat mendekatinya.

“Pantulan bayangan yang terlihat pada kaca bisa tampak banyak memanjang atau mengecil, terjadi karena refleksi dari dua buah cermin yang saling berhadapan. Dan ini menjadi salah satu keistimewaan dari furnitur yang ada dalam Istana Bogor,” ungkap Cecep Koswara.

Tidak hanya cermin seribu bayangan, banyak lukisan yang terpasang di Istana Bogor memiliki nilai sejarah yang tinggi. Karena hampir seluruhnya merupakan pemberian kepala negara yang pernah bertemu langsung Presiden Soekarno dan pelukis ternama seperti Basuki Abdullah, Raden Saleh dan dari mancanegara.

Serta beberapa benda seni lainnya yang merupakan kebanyakan hasil karya buatan luar negeri yang memang khusus dipersembahkan untuk mengisi Istana Bogor. Sehingga ada beberapa kesamaan kursi di beberapa ruangan dan struktur bangunan dengan arsitektur Eropa jaman dulu. Terlihat dari ubin marmer Italia, karpet Persia, lampu kristal Cheko dan masih banyak lagi.

Istana Bogor Kini

Menjadi salah satu bangunan kuno yang berdiri megah di Kota Bogor, Jawa Barat, Istana Bogor sebagai ikon yang penuh sejarah. Bangunan bercat putih dengan banyak rusa dalam halaman yang luas, sudah terlihat dari kejauhan saat kita melawati jalan Ir. H.  Juanda I.

Begitu istimewa Istana Bogor bagi seluruh masyarakatnya serta kebanggaan, karena menjadi tempat tinggal Presiden Indonesia, kantor bekerja dan dalam menjamu tamu kenegaraannya. Sudah banyak pejabat penting di dunia yang pernah datang ke sini, hingga mendapat sambutan hangat oleh warga Bogor.

Kini Istana Bogor tidak hanya milik negara yang hanya dapat dimasuki dan dinikmati oleh Presiden, keluarga, pejabat dan tamu-tamu negara lainnya. Sejak beberapa tahun lalu, istana kepresidenan dibuka untuk umum dengan prosedur yang telah ditetapkan. Setiap harinya, siapa saja bisa datang dan melihat-lihat dalamnya secara menyeluruh sesuai panduan protokoler kepresidenannya.

Menurut Cecep Koswara selaku Protokol Kepresidenan, pihaknya akan memberikan ijin khusus bagi siapa saja yang ingin mengunjungi Istana Bogor. Biasanya kita mengajukan dalam beberapa waktu sebelumnya, dengan mengirimkan surat kunjungan. Hal tersebut bertujuan untuk mengenalkan Istana Bogor dari sejarah, keberadaan dan seisinya kepada seluruh masyarakat Indonesia dari segala kalangan.

Setelah surat disetujui, maka waktu kunjungan akan dijadwalkan oleh pihak Istana Bogor dan kita bisa langsung menyaksikan dan melihat Kantor Pribadi Kepala Negara; Perpustakaan; Ruang makan;

Ruang sidang menteri-menteri dan ruang pemutaran film; Ruang Garuda sebagai tempat upacara resmi; Ruang teratai sebagai sayap tempat penerimaan tamu-tamu negara, serta beberapa ruangan beserta seluruh isinya.

Nah, sesaat menjadi saksi mata kemegahan Istana Bogor, secara berkala pihak rumah tangga internal melakukan mengecekan bangunan setiap enam bulan sekali. Serta rajin mengecek seluruh isi bangunan dan menaruh kamera pemantau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here